Faktor yang menyebabkan prostitusi online internet semakin marak terjadi dan terus berkembang dari waktu ke waktu, Adapun 5 faktor penyebab terjadinya pelacuran, yakni:
1. Lemahnya tingkat keimanan seseorang terhadap Tuhan Yang
Maha Esa.
Pada dasarnya, keimanan adalah landasan seseorang dalam menjalani kehidupan ini. Tiap-tiap agama
mempunyai aturan sendiri-sendiri mengenai perintah dan larangan Tuhan Y.M.E.
Tidak ada satu pun agama yang memperbolehkan pelacuran terjadi. Dalam hidupnya,
seseorang harus selalu berada pada jalur yang benar yakni jalur yang sudah
diatur dalam kitab suci agama. Dengan dilandasi keimanan yang baik, diharapkan
orang tersebut akan kuat menjalani arus tajam dalam kehidupan ini.
2. Kemiskinan, kemiskinan telah memaksa banyak keluarga
untuk merencanakan strategi penopang kehidupan mereka termasuk menjual moral
untuk bekerja dan bekerja karena jeratan hutang, yaitu pekerjaan yang dilakukan
seseorang guna membayar hutang atau pinjaman;
Pada dasarnya, penyebab
utama terjadinya pelacuran ialah keterpurukan kondisi ekonomi Indonesia. Hal
tersebut akan berdampak langsung pada penutupan banyak pabrik dan rasionalisasi
besar-besaran terhadap jumlah tenaga kerja. Akibatnya, banyak orang yang kehilangan
pekerjaan. Selain itu, akibat kurang kondusifnya iklim investasi terutama
karena faktor keamanan, sedikit sekali lapangan kerja yang tersedia. Peluang
kerja yang ada tidak sebanding dengan jumlah orang yang mencari pekerjaan.
Keadaan ini membuat orang berupaya keras mencari pekerjaan hingga kenegara
lain. Disisi lain, dilihat dalam konteks keluarga, wanita dipandang sebagai
”pekerja alternatif” yang dapat menjamin kelangsungan hidup satu keluarga.
Fenomena pelacuran ini
merupakan sektor perdagangan yang kini berkembang pesat. Dimana ini juga ada
yang dikendalikan oleh jaringan global yang tersusun serta bersindikat, dengan
menggunakan kelengkapan teknologi yang canggih serta dilindungi oleh
pihak-pihak yang tidak bertangunggung jawab.
3. Keinginan cepat kaya (materialistic), keinginan
untuk memiliki materi dan standar hidup yang lebih tinggi-memicu terjadinya
pelacuran. Aktivitas haram ini sudah menjamah lingkungan pendidikan. Pelajar
SMP, SMA, Mahasiswa banyak pula yang terjun dalam dunia ini. Motifnya, selain
faktor kemiskinan juga adanya keinginan untuk dapat segera memenuhi kebutuhan
gaya hidup yang mewah.
4. Faktor budaya, faktor-faktor budaya berikut memberikan
kontribusi terhadap terjadinya pelacuran wanita, seperti: budaya cyberporn
di internet dengan memasang foto-foto porno tanpa ada rasa malu dari pihak yang
bersangkutan dan secara terang-terangan menawarkan dirinya dengan tarif dan
harga yang dicantumkan dalam akun tersebut dengan akses yang mudah karena
banyaknya pengguna internet yang akan dapat melihat produk yang ditawarkannya. Situs prostitusi online menjadi budaya bisnis yang
memberikan keuntungan lebih besar dibandingkan tempat prostitusi pada umumnya
seperti Gang Dolly di Surabaya, teknologi sangat tidak dibutuhkan sebagai media
promosi dalam hal prostitusi. Contohnya saja "Gang Dolly". Sebagai
tempat Prostitusi terbesar di "Asia Tenggara" seharusnya lebih
menguntungkan dibanding prostitusi di Internet yang jaringannya tidak besar.
Namun bila dibandingkan tarif, Prostitusi Online yang menang. Bila pada
internet tarif berkisar antara Rp 500 ribu hingga Rp 50 juta, di Gang Dolly paling murah hanyalah Rp 100 ribu.
5. Lemahnya penegakan hukum, pejabat penegak hukum dalam
mengawasi beredarnya cyberporn. Bahkan kegiatan prostitusi dan pornografi
online internet dianggap “bahaya laten” yang selalu ada dan berkembang walaupun
terus diberantas. Sebenarnya, kenyataan di masyarakat memang demikian. Akan
tetapi hal ini kembali lagi pada ketegasan aparat penegak hukum dalam
memberikan “shock therapy” pada pemuat situs porno.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar